Oleh : SUTRISNO
Keprihatinan Sutrisno yang bermula dari ekspor buah Indonesia ke Jepang di tolak, karena penyakit busuk buah, membuatnya mengadakan penelitian serius yang akhirnya menghasilkan alat perangkap lalat.
Bagi para petani maupun pengusaha buah-buahan dan sayur-sayuran, salah satu masalah yang sering timbul adalah penyakit busuk buah dan gagal bertanam karena hal yang sama. Serangan busuk buah ini sering menyebabkan daun pohon cabe menjadi keriting, menggulung ke dalam berbentuk bisul-bisul. Dan kalau musim hujan bisa mencapai 80% atau praktis busuk semua. Menyedihkan memang.
Rasa keprihatinannya mendorong Sutrisno, Kasubdit Buah-buahan, Ditjen TPH Deptan untuk melakukan penelitian serius mengenai penyakit tadi.
Lulusan UGM Fakultas Pertanian ini akhirnya berhasil menemukan penyebabnya, yakni akibat lalat buah yang sekilas tampak cantik dan sebenarnya pembersih. Sayangnya sang lalat betina suka meletakkan telurnya-telurnya pada buah-buahan yang telah ditusukinya.
Seorang staf Sutrisno, Parlindungan, mengusulkan penggunaan perangkap lalat yang menggunakan sejenis cairan untuk memanggil lalat jantan. Bahan dasarnya minyak cengkeh yang diolah menjadi metil egenol. Senyawa ini ditemukan ITB, mirip dengan senyawa yang dikeluarkan lalat buah betina pada saat kawin.
Percobaan demi percobaan dilakukannya sendiri di halaman rumahnya yang mempunyai lahan tanaman sekitar 600 m2.
Hasilnya, ia menemukan perangkap lalat. Dan telah dicobakan pada tanaman cabe. Cabenya telah berbuah dengan hasil produksi yang bagus dalam waktu tiga bulan. Per batang produksinya mencapai 1,5 sampai 2 kg. Sampai ke tiga kali panen, hasilnya tetap bagus.
Alatnya sederhana, berupa tabung yang di isi air setinggi sepertiga dengan terlebih dulu dicampur detergen. Kemudian cairan dioleskan pada kapas dan diikat pada tutup tabung bagian atas. Sementara kiri dan kanannya dilubangi dengan corong. Corong ini merupakan bagian terpenting, karena seharusnya bau cairan metil egenol hanya tercium dari corong ini. Pastikan tabungnya tidak bocor, sehingga baunya tidak keluar. Sutrisno sendiri tidak bermaksud mempatenkan temuannya karena harganya sangat murah, hanya Rp 1.500,- per unit. (Isa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar