Rabu, 30 Maret 2011

Visi 2025 dan Perkembangan Teknologi Indonesia

Pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memaparkan Visi 2025 kepada khalayak, banyak komentar sinis yang terlontar. Apakah kita memiliki kemampuan untuk mencapai hal itu? Apakah itu bukan suatu mimpi atau bahkan, lebih sadis lagi, suatu kebohongan? Saya telah mengikuti perkembangan data makro Indonesia selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya pada 2005 saya meluncurkan sebuah buku Musim Semi Perekonomian Indonesia.

Pada buku itu pun saya tegaskan perlunya Pemerintah Indonesia membangun sebuah visi untuk negeri ini. Namun, yang lebih penting lagi, saya sungguh optimistis mengenai masa depan negara kita. Oleh karena itu, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri jika pada 2008, pada saat banyak negara sudah berjatuhan ke dalam resesi, Indonesia mampu bersama China dan India tetap bertahan sehingga menjadi sorotan berbagai kalangan dunia.

Optimisme tersebut membuat saya yakin bahwa pada 2025, Indonesia sangat mungkin memiliki pendapatan per kapita lebih dari USD10.000 dan bahkan mungkin mendekati USD15.000 sehingga secara keseluruhan, perekonomian Indonesia akan mencapai lebih dari USD3 triliun, suatu tingkat yang lebih besar daripada perekonomian Jerman, Inggris atau Prancis saat ini. Namun, yang lebih penting adalah melihat kemampuan dunia bisnis Indonesia secara mikro.

Dari sisi ini, saya semakin percaya bahwa kompetisi yang ada tidaklah mengerdilkan kemampuan dunia bisnis Indonesia, melainkan justru menguatkannya. Kehadiran Shell, Petronas, dan sebagainya dalam bisnis ritel perminyakan ternyata justru memperkuat kemampuan bersaing Pertamina. Kehadiran bankbank asing di Indonesia juga memperkuat kemampuan perbankan Indonesia dan memperkuat kemampuan sumber daya manusia kita.

Jika dulu perbankan kita banyak membajak tenaga ahli dari Citibank dan sebagainya, dewasa ini para bankir Indonesia justru menjadi sasaran pembajakan oleh bank-bank asing. Sementara itu Garuda Indonesia menjadi semakin kuat karena adanya persaingan tersebut. Pada saat yang sama berbagai perusahaan penerbangan swasta domestik seperti Lion Air dan Mandala mampu berkembang pesat, tidak kalah dengan kemampuan perusahaan penerbangan negara lain.

Pada akhirnya memang diperlukan ketajaman cara pandang untuk mampu melihat prestasi Indonesia secara objektif. Hanya dengan itu kita akan memiliki kemampuan untuk mensyukurinya.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
(jri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar