Senin, 28 Maret 2011

ALat penGhemAt bAhaN bAkaR diEseL

Oleh : RIZAL & JUFFRI SAHRONI
Mobil diesel anda ingin lebih bertenaga dan hemat bahan bakar? Ada satu penemuan mutakhir dan canggih dari karya cipta anak-anak bangsa ini, yakni MAX-PC. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan tenaga mesin diesel mobil anda, meningkatkan penghematan bahan bakar dan menurunkan tingkat kebisingan mesin tanpa harus mengubah mesin anda dari spesifikasi standar pabrik. Menariknya, sejarah penemuan formula ini berawal dari hal yang tidak disangka-sangka. Saat itu kumpulan anak-anak muda yang hobi dan gila utak-atik mobil, antara lain Rizal Simanjuntak dan Juffri Sahroni berhasil menemukan sebuah teknologi rancang bangun mesin untuk meningkatkan tenaga mesin diesel. Akhirnya mereka mendirikan R&D dengan nama MAXIMIZER.
Dari pengalaman berbulan-bulan mengamati dan mengutak-atik mesin mobil, mereka akhirnya berhasil menemukan sebuah teknologi rancang bangun untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan mesin diesel. Produk itu dinamakan MAX-PC dan telah dipatenkan.
Bentuknya kira-kira sebesar bungkus rokok. Namun produk yang amat mudah dipasang di mesin kendaraan tersebut didesain penciptanya menjadi produk `pintar`. Produk ini didesain untuk sebuah target perbaikan. Dia dapat meningkatkan akselerasi gas buang, dapat meningkatkan top speed kendaraan diesel. Selain itu produk ini diciptakan untuk menambah tenaga pada semua tingkat kecepatan. Bukan hanya itu saja, keunggulan lainnya, dapat menurunkan getaran mesin, menurunkan tingkat kebisingan, dan penghematan bahan bakar.
Menurut Rizal Simanjuntak, peningkatan akselerasi dapat dirasakan pada tiap tingkat kecepatan. Untuk semua jenis dan merek mobil diesel keluaran tahun 1995-2002, akselerasinya mencapai maksimal 2-6 detik. Sedangkan untuk mobil diesel keluaran dibawah tahun 1995 dapat meningkatkan akselerasi hingga 10-20 detik. Sedangkan untuk penurunan kebisingan dapat dicapai rata-rata antara 1,5 dB hingga 3 dB.
“Kadar suara dengan sendirinya memang dapat turun karena beban kerja mesin menjadi lebih ringan,” jelas Rizal. Soal penghematan bahan bakar, buktikan saja. Bahan bakar yang dihemat setelah mesin dipasangi alat ini mencapai rata-rata 5-10 persen. Jika pemakaian bahan bakar mobil diesel anda -untuk berbagai macam aktivitas-, tiap harinya rata-rata 50-100 liter, maka anda dapat menghemat antara 5-10 liter. Lumayan juga! Uniknya, alat ini hanya dijual seharga Rp 1,250 ribu. Murah bukan? Jika kita melihat pelayanan purna jualnya. Produsen MAX-PC, yakni MAXIMIZER memberi garansi pada alat yang dijualnya SEUMUR HIDUP! Bayangkan. Jadi jika MAX-PC memang tidak mampu memenuhi semua kelebihannya seperti yang diceritakan diatas maka konsumen boleh mengembalikan tanpa membayar. Dan jika alat ini tidak berfungsi atau rusak, maka produsen atau bengkel resmi penyalurnya akan mengganti dengan alat baru tanpa bayar alias gratis. Konsumen cukup membayar bila terjadi perbaikan.
Pabrik MAXIMIZER pun membuat pelayanan atau aturan main penjualan yang benar-benar customer satisfaction. Tiap mobil yang akan dipasang MAX-PC, dilakukan pengetesan sebelum dan sesudah produk MAC-PC terpasang. Dan perbandingan kondisi kendaraan sebelum dan sesudah MAX-PC terpasang –misalnya peningkatan tenaga, akselerasi, kebisingan suara dan hemat BBM– terbukti, menjadi acuan kesepakatan bertransaksi antara pemilik mobil dan bengkel resmi penjual MAX-PC yang ditunjuk MAXIMIZER.
Panduan perbandingannya ialah, untuk uji akselerasi (0-100 kilometer) dan uji kebisingan (menggunakan dB meter). Alat MAX-PC ini akan dipasang di sela-sela saluran engine, injector dengan tangki bahan bakar. Jadi tidak mengganggu spesifikasi mesin secara standar, tidak membutuhkan tambahan power dari aki atau mesin.
Lebih jauh Rizal mengungkapkan, alat ini sengaja didesain dengan menggabungkan sourcing dari beberapa tempat. Untuk bodi MAX-PC, MAXIMIZER selaku pemilik paten mengambil bahannya dari pabrik mesin di sekitar Tegal dan Klaten Jawa Tengah. Bodi alat terbuat dari alumunium yang tahan panas dan bisa mengalirkan tenaga secara maksimal. Kemudian untuk pembuatan enginenya, MAXIMIZER menggunakan fasilitas milik pabrik pesawat terbang IPTN di Bandung guna menyediakan rancangan engine dalamnya. “Pokoknya komposisi alat ini 60 persen lokal dan 40 persen dengan presisi tinggi,” ujarnya.
Pada kesempatan ini Rizal juga membuka kesempatan pada bengkel atau agen di daerah yang ingin membuka agen penjualan MAX-PC. “Syaratnya mudah kok, datang saja ke markas kami di Jalan Pangeran Antasari Nomor 70, Cipete, Jakarta Selatan, nomor teleponnya 766-2205, nanti kita bicarakan bersama,” ujarnya. Menurut taksiran Rizal untuk membuka agen penjualan atau bengkel dibutuhkan investasi sekitar Rp 300 juta. Tapi itu bagi mitra yang memang benar-benar mulai dari nol alias tidak punya bengkel. Bagi yang sudah punya tempat dan bengkel, investasinya kecil sekali. “Dan kami tidak menggunakan metode yang rumit pada pola mitra dagang dan pendistribusiannya, nantinya kita tinggal bagi hasil saja,” tutur Rizal. Saat ini sudah ada beberapa tawaran masuk untuk menjadi mitra, yakni dari Semarang dan Surabaya. Namun dari Bandung, Medan, Ujung Pandang, dan kota-kota besar lainnya masih terbuka luas. (Edo)

alat perangkap lalat buah

Oleh : SUTRISNO
Keprihatinan Sutrisno yang bermula dari ekspor buah Indonesia ke Jepang di tolak, karena penyakit busuk buah, membuatnya mengadakan penelitian serius yang akhirnya menghasilkan alat perangkap lalat.
Bagi para petani maupun pengusaha buah-buahan dan sayur-sayuran, salah satu masalah yang sering timbul adalah penyakit busuk buah dan gagal bertanam karena hal yang sama. Serangan busuk buah ini sering menyebabkan daun pohon cabe menjadi keriting, menggulung ke dalam berbentuk bisul-bisul. Dan kalau musim hujan bisa mencapai 80% atau praktis busuk semua. Menyedihkan memang.
Rasa keprihatinannya mendorong Sutrisno, Kasubdit Buah-buahan, Ditjen TPH Deptan untuk melakukan penelitian serius mengenai penyakit tadi.
Lulusan UGM Fakultas Pertanian ini akhirnya berhasil menemukan penyebabnya, yakni akibat lalat buah yang sekilas tampak cantik dan sebenarnya pembersih. Sayangnya sang lalat betina suka meletakkan telurnya-telurnya pada buah-buahan yang telah ditusukinya.
Seorang staf Sutrisno, Parlindungan, mengusulkan penggunaan perangkap lalat yang menggunakan sejenis cairan untuk memanggil lalat jantan. Bahan dasarnya minyak cengkeh yang diolah menjadi metil egenol. Senyawa ini ditemukan ITB, mirip dengan senyawa yang dikeluarkan lalat buah betina pada saat kawin.
Percobaan demi percobaan dilakukannya sendiri di halaman rumahnya yang mempunyai lahan tanaman sekitar 600 m2.
Hasilnya, ia menemukan perangkap lalat. Dan telah dicobakan pada tanaman cabe. Cabenya telah berbuah dengan hasil produksi yang bagus dalam waktu tiga bulan. Per batang produksinya mencapai 1,5 sampai 2 kg. Sampai ke tiga kali panen, hasilnya tetap bagus.
Alatnya sederhana, berupa tabung yang di isi air setinggi sepertiga dengan terlebih dulu dicampur detergen. Kemudian cairan dioleskan pada kapas dan diikat pada tutup tabung bagian atas. Sementara kiri dan kanannya dilubangi dengan corong. Corong ini merupakan bagian terpenting, karena seharusnya bau cairan metil egenol hanya tercium dari corong ini. Pastikan tabungnya tidak bocor, sehingga baunya tidak keluar. Sutrisno sendiri tidak bermaksud mempatenkan temuannya karena harganya sangat murah, hanya Rp 1.500,- per unit. (Isa)

aLat bUat mAngGiL iKan....^_^....

Oleh : LALU SELAMAT MARTA DINATA
Memanggil ikan di laut agar mendekat biar gampang terperangkap jaring maupun jala nelayan mungkin masih langka. Lalu Selamat Marta Dinata alias Memet (23) bisa menjawab kelangkaan itu. Dengan alat bikinannya yang mengeluarkan suara dan cahaya, ikan ditanggung bakal mendekati bunyi dan sinar itu.
“Saya sebut saja ‘API’ (alat pemanggil ikan), daripada susah-susah mikir,” ujar Memet mengenai nama rakitannya itu.
API terbuat dari komponen yang biasa digunakan sebagai bahan baku produk elektronik, seperti transistor frekuensi rendah, transformer (trafo frekuensi), piezo (penghasil/pengatur tingkat suara), kapasitor elektrolit dengan kertas sebagai filter RC (resistor-capasitor), dan lampu led super yang memproduksi suara.
Perangkat itu dilengkapi baterai, kemudian dimasukkan ke dalam tabung kedap air terbuat dari plastik kaca, yang biasanya digunakan sebagai wadah bumbu merica. “Dulunya pakai tupperware, meski suaranya konstan, karena tidak dilengkapi piezo,” tutur Memet mengungkap tahapan temuannya itu.
API, yang secara teknis komponennya lebih sempurna dibandingkan dengan alat sebelumnya itu, menghasilkan lengkingan frekuensi suara 10 kHz- 150 kHz dan jangkauan daya bias lampu mencapai 200-500 meter pada malam hari. Dari hasil uji coba alat yang dimasukkan pada kedalaman laut dua-tiga meter di perairan Batu Nampar, Lombok Timur, diketahui bahwa yang memburu suara dan sinar itu adalah udang lobster, ikan layar dan kapas, kepiting, serta ikan-ikan kecil.
API itu digantungkan pada jaring angkat yang diletakkan sekitar 6-10 meter kedalaman laut. Sekitar 15-30 menit setelah alat diaktifkan, kawanan ikan berdatangan, jaring pun diangkat pelan-pelan, sehingga ikan itu kena serok. Malah dengan frekuensi 45 kHz- 90 kHz, alat tersebut dikatakan mampu memanggil ikan sepanjang satu jengkal dan selebar lima jari orang dewasa.
Memet menciptakan temuannya itu setelah terinspirasi oleh tayangan televisi yang menyiarkan beragam temuan teknologi, seperti bagaimana memanggil anjing dan kelelawar dengan memakai frekuensi ultrasonik. “Anjing pelacak bisa dipanggil dengan peluit yang bila ditiup tidak terdengar kuping manusia karena frekuensinya di bawah 30 kHz. Batas frekuensi yang tertangkap genderang telinga manusia maksimal-minimal 30 kHz,” ucapnya. Sedangkan “memanggil-mengusir tikus dan nyamuk, saya ketahui dari buku ilmiah,” ujarnya lagi. Memet yang saat itu masih kelas I Sekolah Teknik Menengah (STM) Wiraswasta Cimahi, Bandung, Jawa Barat, tergugah. “Jika binatang bisa dipanggil, mengapa pola yang sama tidak diterapkan pula pada ikan?” ucapnya.
Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Lalu Kartawinata (almarhum)-Neneng Herawati ini lalu memulai proses kreatifnya. Dia lantas membeli radio, amplifier, dan televisi rongsokan di pasar loak yang harganya rata-rata Rp 1.500-Rp 5.000 per unit, dengan menyisihkan jatah uang jajannya. Barang elektronik itu dibongkar, komponennya yang masih layak pakai dirakit lagi.
Dia juga mempelajari perilaku ikan yang gemar mengejar dan mengelompok pada plankton yang mengeluarkan cahaya berkedap-kedip di malam hari, sehingga “di mana ada sinar, di situ biasanya banyak ikan. Dan, sebagai pengganti cahaya plankton, saya gunakan lampu led super yang kilatannya 500 meter per 0,5 detik sampai satu detik di dalam air, seperti kilatan lampu blitz,” tuturnya.
Setelah setahun berkutat dengan peranti elektronik, Memet berhasil merakit alat yang diinginkan saat di kelas II. “Tinggal di mana alat ini saya uji coba,” tuturnya.
Beruntung dia punya teman yang berasal dari Desa Cihampelas, Kecamatan Cililin, Bandung, yang memiliki beberapa petak kolam ikan air tawar. Memet diizinkan menggunakan dua petak kolam. Kolam pertama diisi ikan, kolam kedua tanpa ikan, hanya berisi air yang disalurkan melalui saluran dari kolam pertama. Alat ciptaannya itu dicelupkan ke kolam yang kosong ikan, dan sekitar 15 menit kemudian ikan di kolam pertama menyerbu kolam kedua melalui saluran tadi.
Memet tampaknya belum puas bila alat itu cuma digunakan di kolam di darat. Dia ingin agar ‘API’-nya dapat dimanfaatkan dalam skala yang lebih luas, yaitu di laut, guna membantu para nelayan. Niat itu dilatarbelakangi oleh “wilayah negara kita sebagian besar berupa kepulauan”, juga kehidupan nelayan yang serba susah, sementara hasil tangkapannya sebatas untuk membiayai hidup satu-dua hari.
Saking terdesak oleh tuntutan hidup, tidak sedikit nelayan yang berpikir pendek, seperti meracik bahan tertentu kemudian dipakai untuk ngebom, atau memakai potasium. Pola seperti itu menjadikan ekologi dan ekosistem laut rusak.
Hanya saja, niat Memet tak begitu saja kesampaian. Selain dia tak punya biaya, tempat tinggalnya di Bandung relatif jauh dari laut. “Kita baru ketemu laut empat jam perjalanan dari Bandung,” ujarnya. Baginya, Bandung kurang memungkinkan untuk mengimplementasikan alatnya itu.
Akhirnya, setelah tamat STM, Memet pulang ke tanah kelahirannya di Lombok, tinggal di rumah bibinya di Jalan Gunung Kawi, Mataram. Lombok, atau Nusa Tenggara Barat (NTB), yang secara geografis sebagian besar wilayahnya berupa laut, memberi peluang besar baginya untuk memasyarakatkan temuannya itu.
“Di Lombok, jalan dalam hitungan menit, kita sudah sampai laut,” katanya. Betapapun, dia harus bekerja keras mencari kawan dan relasi untuk memperkenalkan temuan dan pengakuan dari banyak kalangan. Awal tahun 2002, dia mengajukan proposal ke Kantor Bappeda NTB, dengan harapan lembaga ini mau membiayai penelitian dan temuannya.
Tanggapan instansi itu positif dan dia diminta menunggu kabar lebih lanjut. Seraya menunggu kepastian, Memet mengajukan proposal yang sama ke Kantor Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, yang kemudian merekrutnya sebagai tenaga kontrakan. Masa kontraknya berakhir Desember 2002. Melalui balai inilah Memet punya banyak kesempatan mewujudkan cita-cita membuat temuannya.
Memang, teknologi sederhana itu belum bisa digunakan secara massal kendati dari aspek efektivitasnya dinilai sudah layak. “Sebagai produk massal, kan, saya butuh detailnya. Misalnya, bila frekuensinya segini, jenis ikan apa yang mendekat,” katanya.
Memet yang lahir 1 Maret 1979 di Mataram merasa yakin, perusahaan di Tanah Air mampu memproduksi tabung-salah satu komponen yang sangat ia butuhkan-dengan mutu yang diperlukan untuk API-nya.
Ia mengharapkan teknologi sederhana itu dapat diproduksi secara massal, apalagi setelah ditotal, harga per unitnya dinilainya tidak terlalu mahal, sekitar Rp 200.000-Rp 250.000, sehingga dapat terjangkau para nelayan di Tanah Air yang kemampuannya sangat terbatas. Dengan alat ini, nantinya, pola penangkapan ikan secara destruktif bisa ditekan.
Memet kini bangga, sebab dari API, dia termasuk dalam 11 orang yang mendapat “Anugerah Teknologi Terapan” dari Pemerintah Provinsi NTB dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun NTB pada 17 Desember 2002. Namun, penghargaan itu bukanlah tujuan akhirnya.
Tahap berikutnya, “bagaimana para nelayan bisa membawa pulang ikan dengan menggunakan alat yang saya buat”, adalah cita-cita Memet, yang, meskipun masih dalam usia muda, mau memikirkan kehidupan rakyat kecil. (Khaerul Anwar)
Sumber: Harian Kompas, 19 Desember 2002.

Sabtu, 26 Maret 2011

8 mObiL buAtan taNgan aNAk Indonesia

PERSOALAN transportasi yang sering dihadapi terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dengan permasalahan ke-macet-an di jalan raya yang sudah sangat ‘akut’, sementara di daerah perdesaan belum seluruhnya ruas jalan yang ada dilapisi aspal hotmix untuk kenyamanan berkendaraan, mungkin menjadi salah satu alasan mengapa sebagian besar desain mobil karya anak bangsa ini memiliki dimensi yang relatif kecil dibandingkan mobil konvensional buatan asing, selain mungkin menimbang harga yang lebih terjangkau bagi mereka yang membutuhkannya.

Meskipun tidak seluruh komponen mobil-mobil tersebut asli buatan Indonesia, namun patut dicatat bahwa sejak dari desain hingga perakitan kendaraan tersebut seluruhnya dikerjakan oleh tangan-tangan ahli anak bangsa. Namun ke depan dapat diharapkan bahwa all component kendaraan tersebut asli made in Indonesia.

Berikut beberapa mobil buatan tangan anak Indonesia yang layak untuk ditampilkan :

1. Mobil Kancil

Kancil (singkatan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah) merupakan merek dagang terdaftar dari sebuah kendaraan angkutan bermotor roda empat yang didisain, diproduksi dan dipasarkan oleh PT. KANCIL (singkatan dari Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari). Pernah diharapkan sebagai pengganti (peremajaan) bajaj dan bemo karena keduanya tidak diizinkan untuk bertambah jumlahnya atau diproduksi di wilayah Jakarta



2. MOBIL ESEMKA

Mobil yang satu ini hebatnya justru dibuat oleh para siswa SMK. Mobil Esemka memiliki 5 jenis varian yakni SUV, pick up double cabin, sedan, pick up single cabin, dan van. Pada gambar di bawah ini merupakan Mobil Esemka SUV buatan siswa-siswa SMK 1 Singosari Malang yang dikerjakan tidak kurang dari 50 siswa SMK Singosari Malang dan menghabiskan biaya sebesar Rp. 175 Juta dalam pembangunan mobil ini. 5 jenis mobil Esemka yang lainnya dikerjakan oleh SMK-SMK lainnya. Untuk harganya anda cukup mengeluarkan uang 80 Juta saja untuk mendapatkan mobil Esemka ini

3. MOBIL KOMODO


Nama Komodo disematkan bukan karena bentuk mobilnya yang seperti Komodo, namun lebih pada fungsinya yang seperti Komodo, yakni selain kuat, Komodo bisa hidup di dua alam sekaligus. Seperti namanya, jangankan di lumpur, di air sekalipun Komodo sudah teruji kehandalannya.

Mobil Komodo adalah garapan PT Fin Tetra Indonesia asal Cimahi, Jawa Barat. Komodo hanya mampu membawa 2 orang penumpan

4. MOBIL TAWON

Mobil imut ini buatan PT Super Gasindo Jaya. Mobil Tawon ini sudah mampu membawa 4 orang dan dibanderol dengan harga 48 Juta. Dengan kapasitas mesin 650 cc dan mampu mencapai kecepatan hingga 85 km/jam! Diperkirakan mobil ini akan menggantikan bajaj2 di Jakarta dan jg akan diproduksi secara massa

5. MOBIL ARINA

Mobil Arina ini kapasitas mesinnya hanya 150 cc, kecepatannya mampu dipacu sampai dengan 70 km/jam, namun konsumsi BBMnya cukup hemat yaitu mencapai 40 km untuk 1 liter bensin.

Mobil Arina, yang merupakan singkatan dari Armada Indonesia, badan hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mobil mikro Arina akan terus dikembangkan sehingga menjadi 100 persen buatan negeri. Jika sudah 100 persen lokal, harganya bakal berada di bawah Rp 30 juta

6. MOBIL GEA

GEA merupakan singkatan dari(Gulirkan Energi Alternatif). Nama GEA diberikan karena mobil yang bentuk dan spesifikasi mesinnya sangat mirip Nano tersebut memakai bahan bakar gas yang dijamin bisa ramah lingkungan. Jika diberi izin pemerintah, PT Inka memprediksi bisa memberi harga GEA pada banderol Rp 45 juta – Rp 50 juta per unit.

Mesin GEA ini berkapasitas 650 cc dan telah diuji telah menempuh 10 ribu km dengan kecepatan 85 km per jam

7. MOBIL WAKABA

Pengembangan mobil WAKABA singkatan dari Wahana Karya Bangsa ini dilakukan di Universitas Pasundan dengan melibatkan tiga orang peneliti dan 12 mahasiswa universitas Pasundan. Dana pengembangannya selain dari Pemda Jawa Barat, juga dari kementrian ristek serta Unpas dan Working Group yang menghabiskan dana lebih dari Rp 200 juta.

Mobil kecil itu bermesin bensin 500 cc. Mesin yang dipakai mesin buatan BPPT Kemetrian Riset dan Teknologi, dengan tingkat kecepatan yang low speed

8. MOBIL MARLIP

Selain mobil-mobil berbahan bakar konvensional di atas, ternyata jauh-jauh hari anak-anak Indonesia sudah merancang mobil listrik. Adalah Mobil bertenaga listrik produksi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) —disebut MARLIP (marmut listrik LIPI)—merupakan salah satu wujud solusi ilmu pengetahuan dan teknologi atas krisis energi di negeri ini. Marlip di antaranya telah digunakan di rumah sakit, lokasi wisata, markas kepolisian, dan lapangan golf. Marlip juga digunakan saat peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung. Namun, pemanfaatannya tetap belum signifikan.

Spesifikasi teknis Marlip adalah berkecepatan 40 km/jam untuk jalan datar dan 20 km/jam untuk tanjakan, jarak tempuh 300 km, masa aktif delapan jam, waktu pengisian baterai tercepat 2,5 jam (rata-rata 4-5 jam), dan berat kosong 300 kilogram untuk jenis city car dan smart. Harga pesanan Rp 40 juta per unit

sumber: http://bos-sulap.blogspot.com/2010/02/mobil-mobil-buatan-tangan-anak.html

anAk IndoNesia biKin fiLm kaRtun

haL ini ngebuktiin kaLo anak IndonEsia, anaK iBu PerTiwi ini mampu bEr saing dengaN duNia iNteRnasiOnaL......semangAt sELaLu daLam beRkaRya!!!!!!

Rabu, 23 Maret 2011

Siswa SMP Bandung Bikin Situs Mirip Facebook

Jejaring sosial Facebook bakal punya saingan. Seorang pelajar SMP Alam Bandung, Muhammad Yahya Harlan, 13 tahun, membuat situs mirip Facebook sebagai jaring pertemanan alternatif di dunia maya. Namanya SalingSapa.com. Rancangan pelajar SMP Sekolah Alam Bandung itu bernuansa Islami. Anggotanya tak dibatasi umur.Mengapa mirip Facebook? "Supaya orang bisa saling sapa dengan mudah," kata ayah Yahya, Yan Harlan, Sabtu (12/2).

Menurut Yan, situs itu sebenarnya telah ada sejak 2009. Namun hingga kini situs yang telah menjaring anggota dari 52 negara itu belum diluncurkan. Sekarang, kata Yan, situs itu telah diakses 400 ribu orang per hari.

Selain bisa untuk saling sapa, SalingSapa.com diisi fitur Al Quran agar orang bisa membacanya atau belajar cara membacanya. Media itu juga menganjurkan pertukaran pesan agama dari ulama ke anggota lain.

Harlan bercerita tentang kegemaran anaknya itu. Kata dia, anaknya telah menyukai komputer sejak usia 3 tahun. Anak pertama dari tiga bersaudara itu mulai belajar programming komputer pada saat kelas 1 SMP. "Bikin situsnya cepat, dalam dua bulan," katanya.

Selama dua tahun ini, Harlan mengasah kemampuannya di Commlabs ITB. Waktu belajarnya dimulai sepulang sekolah pukul 16.00 hingga malam. "Karena dia memang suka," kata Yan.

IndonEsia nEgARa kReatiF......

oRang Indonesia....ada yg biLang kaLo oRanG Indonesia tu biSanya cuMa jdi pLagiatOR aLIas tuKang bajAK biNti jipLaK......padaHaL juStru oRang Indonesia tU aDaLah oRang - oranG dengAn tingKat kREatifitas diAtas rAta2....aLias KReatif bAngETT!!!


bAyangiN ajA maNA adA di LuaR nEgEri, maKanAn yg naManya tEmpoYak,yaitu sEjeniS makAnaN daRi DuriaN yg tElah diFermEntasi.....mAkaNAn kHAs SumaTera seLataN..

tRuz jUga di nEgaRa LaiN, maNa adA yg nAmanyA ojEk pAyunG.... kan cuMa aDa di Indonesia....

LaGu dAeRah, sUKu bAngSA, ruMah adAt, mAkanAn khAS, bAhasa dAerAh, taRiaN daErah, dLL masiH banyAk LaGi,,,, seMua itu kEkAyaaN IndoNesia yG ada bErkaT kReatifitAs tinGGi peNduDuknya....Betul tiDAk??????

makAnya,,,, bUat seMua oRang IndonEsia...JanGan mAu dikaTakan sEbagAi PLAGIATOR......bUktikaN bAhwA IndoneSia maMpu BeRkarYA denGan tAngan sEndiri.....

JANGAN PERNAH BERHENTI BERKARYA!!!!!!!!!